Ad Code

CERDAS DIATAS KERTAS, BEJAT DALAM TINDAKAN : Ironi Integritas di Lingkungan Kampus

 


Belakangan ini banyak sekali kabar yang kurang mengenakan terjadi di tempat-tempat pendidikan tinggi kita, seperti kasus pelecehan baik secara verbal maupun nyata terhadap perempuan yang seolah-olah perempuan hanya dianggap sebagai objek semata saja. Mulai dari tindakan pelecehan verbal yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa hukum di salah satu Kampus terbaik di Indonesia yang melakukan perbincangan yang mengandung unsur pelecehan verbal terhadap para teman mahasiswi-nya sendiri, dosen hingga kakak pelaku itu sendiri. Sungguh miris, yang katanya calon penegak hukum di negeri ini akan tetapi tindakannya seolah-olah tidak menggambarkan sebagai orang yang paham hukum dan berpendidikan.

Tidak hanya itu saja, masalah yang sama terjadi juga di dua kampus terbaik di Jawa Barat, yaitu satu terkait tindakan seorang oknum Guru Besar dari Fakultas Keperawatan berinisial IY yang diduga telah melakukan pelecehan seksual secara verbal terhadap seorang mahasiswi asing program pertukaran pelajar, yang dimana modusnya adalah pengiriman pesan yang tidak senonoh dan permintaan untuk mengirimkan foto pribadi mahasiswi tersebut kepada sang oknum Guru Besar. Sedangkan yang satu lagi berkaitan dengan kontroversi lagu Erika yang dinyanyikan oleh para mahasiswa/i Himpunan Mahasiswa Tambang dengan lirik lagu tersebut yang dinilai seksis dan merendahkan martabat perempuan.
 
Hingga kini, kedua kampus tersebut menyatakan tengah melakukan evaluasi internal terkait peristiwa yang terjadi. Sungguh miris sekali apa yang sedang terjadi di dunia pendidikan kita, yang seharusnya menjadi tempat belajar dan kemudian diharapkan dapat bermanfaat bagi Nusa, Bangsa dan Negara justru bertindak seperti tidak pernah belajar. Lantas mengapa hal ini bisa terjadi? apa yang menyebabkan institusi pendidikan kita bisa ‘kecolongan’? Mari kita bahas dalam artikel sederhana ini.

Peristiwa yang terjadi di indonesia saat ini, apalagi yang terjadi di dalam sebuah tempat yang digunakan sebagai tempat menimba ilmu bukan lain dan bukan salah lagi karena sistem pendidikan kita yang mengedepankan akademik terlebih dahulu, namun meninggalkan bahwa pendidikan moral itu sama pentingnya bahkan sejajar dengan pendidikan secara akademik. Bayangkan saja, seperti misalnya seorang oknum Guru Besar saja mengirimkan pesan yang tidak senonoh terhadap mahasiswinya yang seharusnya ia ajari dan ia didik. Padahal secara akademik, kurang tinggi apa lagi coba ilmu yang dimiliki oleh seseorang dengan jabatan Guru Besar nya, bukan? hal ini dikarenakan ia hanya tinggi dalam pemahaman keilmuannya saja, tidak dengan moral dan akhlaknya.

Sudah seharusnya kita mencontoh sistem pendidikan yang diterapkan oleh negara-negara lain, seperti sistem pendidikan yang dilakukan oleh Jepang, yang dimana Karakter dulu, Baru Pintar. di Jepang, sekolah tidak hanya dianggap sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan (akademik) semata, tetapi juga lebih kepada pembentukan warga negara yang beretika. Pendidikan moral di Jepang dimulai dari pendidikan taman kanak-kanak sampai dengan kelas 3 SD (sekitar umur 10 tahun), pada tahap ini pemerintah Jepang tidak menitikberatkan tekanan akademik (ujian) bagi para siswa/i -nya, melainkan pembentukan perilaku terlebih dahulu. Cara jepang untuk membentuk ‘aset’ berharga mereka pun berhasil, berdasarkan Indeks Sumber Daya Manusia (SDM) Jepang yang menjadi salah satu yang terbaik di dunia berkat fokus karakter, namun bukan berarti Jepang mengabaikan aspek akademik, terbukti dari skor tes internasional mereka yang konsisten di papan atas IQ tertinggi di dunia.     

Kesimpulan
Setelah peristiwa tidak senonoh yang terjadi di institusi pendidikan kita, sudah seharusnya pemerintah mulai bertindak mengenai sistem pendidikan kita yang dinilai hancur dan bobrok ini bukan memperbesar fokus terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak penting, seperti pengadaan motor trail untuk setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang jumlahnya sampai dua puluh ribu sekian. Jika pemerintah sangat serius untuk ‘berinvestasi’ pada aset yang benar-benar aset, maka perbaikan sistem pendidikan kita diperbaiki untuk mencapai sumber daya manusia yang berkarakter nan pintar. 

Posting Komentar

0 Komentar

Close Menu